Langsung ke konten utama

Kisah Wanita Merawat Kaum Difabel dan Yatim Piatu, Buka Kelas Modeling hingga Kafe

 

Kisah Wanita Merawat Kaum Difabel dan Yatim Piatu, Buka Kelas Modeling hingga Kafe

Agen Poker Sabtu (09/04/2022) Namanya Maria Yeti Asri Saputri. Wanita kelahiran Solo, 12 Oktober 1980 ini memiliki obsesi besar untuk kesejahteraan kaum berkebutuhan khusus atau difabel. Tak hanya bagi kaum difabel, wanita dua anak ini juga menjadi pahlawan bagi anak yatim piatu yang terlantar. Pada awalnya, tak pernah terpikirkan oleh Maria Yeti untuk melayani para penyandang disabilitas maupun anak yatim piatu. Semua berawal dari sebuah mimpi yang dialaminya di tahun 2012. Dari mimpi itu ia yakin mengabdikan hidupnya, melayani kaum disabilitas maupun anak yatim piatu. "Saya dan keluarga itu semua normal dan sehat, tidak ada yang difabel. Tahun 2012 itu saya mimpi menjadi seorang sopir bus. Penumpang saya semua difabel, saya bawa busnya parkir di taman yang indah. Terus saya turunkan mereka. Terus saya main sama mereka, saya merasa bahagia. Ketika saya menjauh, seolah-olah saya itu dikejar-kejar orang difabel. Dari situ saya bertekad bahwa ini adalah tugas pelayanan saya,” ujar Yeti, saat ditemui merdeka.com di rumahnya, Jalan Madubronto Sondakan, Laweyan, Solo, Sabtu (9/4). Agen Domino

Maria Yeti mengaku bermimpi yang sana hingga tiga kali. Itulah yang membuatnya kemudian mencari makna mimpi tersebut dengan berpuasa dan berdoa memohon petunjuk kepada Tuhan. "Di dalam bus itu kan isinya semua orang difabel. Berarti saya harus membawa mereka ke suatu tempat. Saya berjalan dengan apa yang bisa saya kerjakan. Saya bukan orang kaya yang bisa memberikan sembako atau bersedekah," kata Maria. Maria Yeti bersyukur dianugerahi talenta yang lebih dibandingkan masyarakat pada umumnya. Talenta tersebut yang kemudian dimaksimalkan hingga menghasilkan pundi-pundi untuk membiayai sejumlah kegiatan bersama puluhan difabel di Solo Raya. Tahun 2012 Yeti sempat bermain di beberapa judul film. Di antaranya, ‘Tukang Bubur Naik Haji’, sinema Pintu Taubat Indosiar, sejumlah acara di TVRI, bintang beberapa iklan televisi dan lainnya. Dari situlah Yeti menyedekahkan penghasilannya untuk kegiatan sosial bersama kaum difabel maupun anak yatim. "Dengan bakat dan talenta yang Tuhan berikan ke saya itu memberanikan untuk membuka sanggar. Saya membuka kelas untuk anak difabel dan untuk anak yang normal," ujar dia.

Sanggar yang dibuka Yeti menampung para difabel untuk belajar di kelas modeling, menggambar, melukis, teater, akting, menari maupun menyanyi. Sedangkan di bidang olahraga, sanggar tersebut memberi kesempatan untuk belajar berenang, bola volly, tenis meja dan lainnya. Sanggar tersebut juga telah melahirkan talenta- talenta dengan prestasi masing-masing. "Beberapa anak di sini ada yang sampai menang di kejuaraan nasional maupun internasional. Ada yang sampai ke Amerika, ada yang sampai Taiwan untuk yang modeling ya. Yang kelas akting itu sudah ada yang si beberapa film juga. Itu padahal mereka anak-anak difabel," bebernya.

Komentar

Pusat Berita